Evolusi Seorang Schweini

Kisah salah satu bintang paling bersinar Piala Dunia 2010. Bagaimana konversi Bastian Schweinsteiger dari sayap ke tengah mengubah sang babi kecil menjadi seorang Jenderal lapangan kelas dunia.

Schweini.

Penggila bola Jerman dulu memanggil Bastian Schweinsteiger dengan julukan tersebut, sebuah kependekan dari nama belakangnya yang kira-kira berarti ‘babi kecil’. Alasan penggunaannya sendiri tidak jelas, bisa jadi karena wajahnya sekilas -maaf- dianggap mirip dengan seekor babi kecil, atau karena sifatnya yang dulu dianggap childish oleh pers Jerman.

Bila penulis harus memilih alasan memanggil Schweinsteiger dengan julukan yang konon dibencinya tersebut, maka sifat kekanak-kanakanlah yang akan penulis pilih. Bagaimanapun juga, ganjil rasanya menyamakan seseorang yang pernah menghiasi halaman Vogue dan berpacaran dengan wanita cantik macam Sarah Brandt dengan seekor babi kecil. Akan tetapi, menilik hari-hari awal perjalanan Bastian, tudingan tidak dewasa tersebut rasanya cukup berdasar.

Bermain dari awal karirnya hingga sekarang untuk sang raksasa Bundesliga, Bayern Munich, perjalanan Schweinsteiger sebagai seorang pemain sepakbola meroket pesat pada awal dekade 2000an. Dikenal sebagai seorang pemain sayap lincah, penuh skill, dan mematikan dari situasi bola mati, sosok pirang Bastian dengan cepat menjelma sebagai salah satu harapan besar masa depan  Der Panser, bersama Phillip Lahm dan Lukas Podolski.

Akan tetapi, Schweinsteiger muda bukannya tanpa noda. Temperamennya yang mudah tersulut dan kelakuannya yang agak ‘bandel’ di luar lapangan membuatnya memperoleh julukan baru, seperti ‘Rebel’, ‘The Bad Boy of German Football’. Noda yang paling hitam barangkali adalah ketika Schweini diduga terlibat skandal pengaturan hasil pertandingan oleh harian TZ, beberapa bulan menjelang Piala Dunia 2006.

Beruntung bagi Bastian, dan seluruh rakyat Jerman, dugaan tersebut ternyata tidak berdasar, dan pelatih Jerman saat itu, Juergen Klinsmann terus mendukungnya sehingga isu tersebut tidak mempengaruhi permainannya di timnas. Kepercayaan Klinsmann pun dibayar penuh oleh Schweinsteiger yang tampil impresif sepanjang turnamen, khususnya ketika mencetak 2 gol pada play-off perebutan juara 3.

Apakah penampilan cemerlang selama Piala Dunia di tanah air sendiri membuat Schweini tumbuh dewasa? Nyatanya tidak.

Ego yang kerap dominan pada pemain muda masih melekat pada diri Schweinsteiger. Di klub-nya, sempat muncul tudingan bahwa dirinya tidak bermain secara optimal, karena merasa tempatnya sebagai starter sudah aman. Ketika Schweini dioperasikan di posisi lain, seperti di tengah, terlihat bahwa dirinya tidak bermain se-antusias ketika di sayap kiri. Kritik mulai bermunculan dari petinggi-petinggi Bayern, seperti Uli Hoeness, dan tentunya, Franz Beckenbauer. Mengesampingkan Euro 2008 dimana lagi-lagi Schweini bermain baik untuk Nationalmanschaaft, pertanyaan-pertanyaan mengenai komitmen dirinya untuk klub terus-menerus dilancarkan. Kapankah sang Babi kecil tumbuh dewasa?

Layaknya tiap film coming-of-age, ternyata perlu sebuah ritus, proses puber bagi babi kecil tersebut untuk tumbuh dewasa. Rupanya perlu sebuah kejatuhan, sebuah pelajaran, agar Schweinsteiger bisa bangkit, berkembang, dan pada kasus ini,berevolusi.

 

 

Proses puber tersebut adalah awal rezim Louis Van Gaal di Allianz Arena. Berdasarkan skema taktik di paruh pertama musim, Schweinsteiger sempat menjadi sayap maupun trequartista dibelakang barisan penyerang Bayern. Permainan Die Roten pun sempat tidak efektif pada paruh pertama Bundesliga, dengan Basti sendiri tidak mampu bermain dengan optimal.

Evolusi itu pun bercikal bakal. Dalam wawancara dengan majalah Kicker pada bulan Agustus, Basti mengutarakan bahwa dirinya lebih senang menghancurkan permainan lawan daripada menjadi playmaker di belakang penyerang. Ia benci melihat tim lawan mendapatkan kesempatan. Perkataannya tersebut tidak lama kemudian dijadikan kenyataan oleh Van Gaal.

The rest is history.

Bersama Mark Van Bommel, Schweinsteiger membentuk salah satu pasangan lini tengah terbaik di Eropa, dan membawa Munich menjuarai Bundesliga dan menjadi finalis Liga Champions.

Selain menghancurkan permainan lawan, dengan visi dan kemampuannya, Basti juga menjadi gelandang sentral yang mendikte jalannya pertandingan, dan memulai tiap serangan. Dengan pengalaman masa lalunya sebagai winger, Schweinsteiger menjadi gelandang langka yang mampu melindungi lini belakang dan mengocek bola melewati 2-3 pemain dengan sama baiknya. Singkat kata, sang babi kecil tumbuh dewasa menjadi salah satu pemain terkomplit di dunia, dan pemain terpenting di lembar tim Bayern Munich sebelum tiap pertandingan.

Di timnas Jerman? Hasilnya bisa dilihat jelas di Piala Dunia 2010 yang sekarang berlangsung. Mungkin nama-nama generasi muda Jerman yang memukau di Afrika Selatan macam Ozil dan Muller-lah yang terus menarik pujian dari penonton Piala Dunia awam (khususnya di twitter). Akan tetapi, perlu diingat bahwa tanpa kerja keras Schweini di ruang mesin lini tengah, keduanya tidak akan seleluasa ini dalam menghancurkan pertahanan lawan.

Peran Schweinsteiger sendiri pun bukanlah peran kuli. Ditunjuk pelatih Jogi Loew untuk menafsirkan peran ‘Ballack’, Basti memastikan tim lawan tidak bisa mengembangkan permainan terlebih dahulu, sebelum ganti menjadi peletak batu fondasi tiap serangan Jerman.

Beberapa pengamat bahwa ketiadaan Ballack adalah anugerah tersembunyi bagi timnas Jerman, karena membuat para pemain muda lebih berkembang, dan bermain dengan lebih bebas. Penulis pribadi melihat bahwa anugerah yang sesungguhnya adalah beralihnya pilar permainan Jerman ke sosok Schweinsteiger. Tempo permainan pun menjadi jauh lebih cepat, karena kelincahan Basti, dan kemampuannya membawa bola keluar dari daerah pertahahan.

Di babak knockout Basti tampil ganas menghadapi dua tim besar dalam bentuk Inggris dan Argentina. The Three Lions boleh punya Lampard, Gerrard, Barry, dan Cole (yang akhirnya dimasukkan), tetapi sayangnya Basti adalah amalgamasi dari keempatnya, dan mimpi buruk bagi Inggris, yang benar-benar diberi pelajaran cara mengatur permainan olehnya. Argentina boleh punya Messi, tetapi sayangnya Basti terus menempelnya ketat selama 90 menit, di samping menyusun tiap serangan, termasuk menyumbang 1 assist setelah melakukan penetrasi yang mengingatkan penulis akan masa Basti sebagai pemain sayap.

Kini, pertandingan besar melawan Spanyol menanti. Dalam ulangan partai final Euro 2008 ini, lagi-lagi Sang Babi kecil yang telah berevolusi akan diuji. Sanggupkah Schweinsteiger menghadapi Xavi dan Iniesta, tandem lini tengah terbaik di dunia?

sumber

Iklan

silahkan komen gratis!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s